Sarat Pesan Moral, Berikut Ini Cerita Rakyat Dari Sumatera Selatan

Kamis 05-10-2023,20:46 WIB
Reporter : Hanibal Batman
Editor : Hanibal Batman

Kedua pasangan sejoli ini, baru saja kembali dari perjalanan ke China. 

Dengan tujuan untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua pria yakni Tan Bun An.

Sepulang mereka dari tanah cina, Tan Bun An dan Siti Fatimah diberi tujuh buah guci besar oleh orang tuanya.

Lalu guci itu dibawa. Rasa penasaran menghinggapi Tan Bun An.

Lalu ia membuka satu guci besar, karena mendapati sayuran busuk Tan Bun An marah lalu melemparkan satu persatu guci ke sungai.

Salah satu guci kemudian jatuh, lalu pecah. Tan Bun An dan Siti Fatimah terkejut bahwa isi guci tersebut berisikan emas. 

Sayur busuk yang diperkirakan Tan Bun An untuk diberikan kepadanya hanyalah sebagai penutup agar tidak dirampok.

Perasaan bersalah menyelimuti Tan Bun An.

Lalu ia menyelam kedasar sungai untuk mengambil kembali guci guci yang telah di buang.

Tan Bun An tak kunjung kembali, hal ini membuat hati Siti Fatimah menjadi cemas. 

Lalu ia menyusul dan Siti Fatimah juga tak kunjung kembali kepermukaan 

Tempat tenggelamnya Tan Bun An dan Siti Fatimah kini menjadi Pulau Kemaro dan menjadi salah satu destinasi di tengah Sungai Musi Palembang. 

Cerita rakyat Pulau Kemaro mengandung kisah sehidup semati pasangan kekasih. Dan juga tersirat makna bahwa dalam keadaan marah tidak boleh mengambil kesimpulan dan selalu berbaik sangka. 

5. Bujang Kurap

Sebagai manusia satu dengan yang lainnya hendaknya saling menghormati dan tidak saling merendahkan.

Hal itu tersirat dari cerita rakyat dari darrah Musi Rawas, Lubuk Linggau dan Musi Rawas Utara (Muratara) ini.

Kategori :