Dari Research University ke Impact University
Saya juga melihat perlunya perubahan cara pandang terhadap riset. Publikasi ilmiah internasional tetap penting. Namun riset tidak boleh berhenti di jurnal.
Pengetahuan harus bergerak dalam sebuah rantai nilai: masalah, riset, publikasi, inovasi, adopsi, lalu dampak.
Tidak semua penelitian harus menjadi produk komersial. Sebuah penelitian dapat menghasilkan paten, prototipe, teknologi tepat guna, model tata kelola, standar, layanan profesional, policy brief, maupun rekomendasi kebijakan.
Ukuran sederhananya adalah: apakah penelitian tersebut digunakan, memberikan manfaat, dan menciptakan perubahan yang dapat diukur?
Untuk itu, Unila perlu memperkuat research cluster berbasis kepakaran sekaligus persoalan strategis.
Pangan dan agroindustri, pesisir dan ekonomi biru, biodiversitas, energi bersih, kesehatan, lingkungan, teknologi dan digitalisasi, kebencanaan, tata kelola, kebijakan publik, serta sosial-budaya merupakan bidang yang memiliki ruang pengembangan besar.
Skripsi, tesis, disertasi, dan penelitian dosen juga perlu mulai dihubungkan dalam agenda riset yang berkelanjutan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Lampung Bukan Sekadar Lokasi
Di titik inilah saya percaya Unila memiliki keunggulan yang sangat besar. Lampung bukan sekadar tempat Unila berada; Lampung harus menjadi sumber ilmu pengetahuan Unila.