Produksi Padi Terbesar Masih dipegang Semaka
SEMAKA - Wilayah Kecamatan Semaka saat ini masih menjadi daerah yang paling banyak memproduksi padi dibanding kecamatan lain yang ada di Kabupaten Tanggamus. Menurut Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Tanggamus Djoko Prabowo, hal itu didasari lahan persawahan yang paling luas dan tingkat produktifitas yang tinggi. \"Penyumbang utama produksi padi di Tanggamus dari Semaka, meski kecamatan lain berperan namun yang tertinggi dari sana (Semaka,red),\" kata Djoko mendampingi Kepala DPTPH Soni Isnaini, kemarin (28/2). Ia menjelaskan, luas sasaran lahan tanam di Semaka 7.042 hektare (ha) selama periode September 2016-Oktober 2017 atau setahun. Namun ketika di lapangan dan dalam kurun waktu setahun, bisa terealisasi luas lahan tanam 8.924 ha. Dan lahan yang panen 9.025 ha, sedangkan capaian setahun 49.890 ton setahun. Djoko mengaku, sebenarnya semua kecamatan mengalami kenaikan antara sasaran dan realisasi tanam. Kecuali Kec Kelumbayan dan Kelumbayan Barat karena faktor topografi. Begitu juga panenan, kecuali Kecamatan Air Naningan yang juga dipengaruhi faktor alam. \"Meningkatnya realisasi lahan tanam dan panenan karena kecukupan air, pemanfaatan alat mesin pertanian, dan perubahan pola tanam oleh petani, dari semula dua kali setahun jadi tiga kali setahun, jadi bukan lahan yang melebar tapi lahannya yang dimanfaatkan sampai tiga kali tanam,\" terangnya. Dari kondisi itu juga maka lahan tanam bisa bergeser dari luas lahan baku selama ini yakni 64.614 hektare. Sebab petani mulai memanfaatkan sawahnya jadi tiga kali tanam. Dari kondisi itu pula maka total produksi setahun 362.265 ton. Jumlah tersebut surplus untuk kebutuhan beras bagi masyarakat Tanggamus. Dilanjutkan Djoko, jika di Kecmatan Semaka tingkat kepesertaan asuransi pertanian juga tinggi, bahkan tanaman padi di seluruh pekon diasuransikan tiap musim tanamnya. Kemudian dari dinas sendiri tiap tahun selalu memasukan Semaka dalam program pembangunan pertanian sebagai penghargaan atas capaian kecamatan tersebut di pertanian. Meski begitu, Djoko mengaku tetap ada kendala pertanian yang dihadapi seperti gangguan wereng coklat dan hijau, ditambah hama tikus. Untuk wereng termasuk penyakit sebab hanya menyerang beberapa petak sawah tidak seluruh hamparan sawah. Mengatasinya dengan pengolahan tanah benar, pengelolaan tanaman, gunakan musuh alami, seperti laba-laba dan burung hantu. \"Kemudian juga gunakan agensi hayati seperti obat-obatan organik yang diolah dari bahan buah gernuk, gadung, kelor, kacapiring,\" ujar Djoko.(ral)
Sumber:
