Saluran Irigasi Lampung Utara Penuh Semak Meski Anggaran Membengkak
--
LAMPUNGUTARA,RADARTANGGAMUS.CO.ID--Pengelolaan anggaran swakelola pemeliharaan irigasi di Kabupaten Lampung Utara menuai sorotan warga. Meski anggaran mencapai miliaran rupiah, aktivitas pekerja di lapangan nyaris tak terlihat, memicu dugaan ketidakoptimalan program.
Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Lampung Utara mengalokasikan Rp461.250.000 untuk pengembangan dan pemeliharaan irigasi primer-sekunder di daerah irigasi di bawah 1.000 hektare. Kegiatan swakelola ini mencakup DI Way Bumi Agung (Sungkai Jaya), DI Way Merah (Kotabumi dan Kotabumi Selatan), DI Tirta Sinta (Abung Tengah), DI Way Seluwang (Abung Tinggi dan Bukit Kemuning), DI Way Gilih (Abung Barat), serta DI Way Kunyir (Abung Pekurun).
Tahun 2026, anggaran melonjak menjadi Rp1,01 miliar untuk upah tenaga kerja. Paket pertama Rp120 juta bayar delapan pekerja selama 100 hari, paket kedua Rp890 juta untuk 89 pekerja dengan durasi sama.
pembersihan saluran, pengangkatan sedimen, pemotongan gulma, dan perawatan jaringan irigasi.Namun, warga di Desa Wonomerto, Madukoro Baru, dan Way Tebabeng mengeluhkan minimnya aktivitas. Saluran irigasi penuh semak belukar dan gulma, seolah tak pernah disentuh. "Jarang sekali terlihat orang membersihkan irigasi. Sekarang kondisinya sudah penuh rumput dan semak," kata seorang warga setempat yang enggan disebut namanya.
Petani bahkan sering gotong royong membersihkan irigasi sendiri. "Selama ini malah petani yang gotong royong bersih-bersih irigasi karena memang petani yang memanfaatkan airnya," ujar seorang kepala desa.
Skema swakelola memang fleksibel, tapi rentan penyimpangan tanpa pengawasan ketat. Petani mendesak transparansi: data tenaga kerja, lokasi kerja, dan laporan realisasi.Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas PSDA, Yunada, tak merespons konfirmasi via telepon (+628789968XXXX) hingga berita ini diturunkan.(wan/ral)
Sumber:
