Oleh : Salman Rifqi Saputra (Tambah Tumbuh Institute)
Tanggamus baru saja menginjakkan kaki di usia ke-29 tahun. Angka yang tergolong masih muda untuk sebuah daerah, tapi juga matang sebagai sebuah daerah otonom. Hari ulang tahun ini semestinya bukan sekadar peringatan bertambahnya kuantitas usia sebuah wilayah administratif saja.
Lebih dari itu, semestinya bisa menjadi wadah dan momentum untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan; perjalanan sejarah, kondisi sumber daya manusia, capaian pembangunan, dan juga arah masa depan suatu daerah.
Dalam hal ini kita bisa meminjam pemikiran Paulo Freire. Seorang ilmuwan asal Brazil yang membagi kesadaran manusia menjadi 3 tingkatan.
Kesadaran Magis (Magical Consciousness), Kesadaran Naif (Naive Consciousness), dan Kesadaran Kritis (Critical Consciousness) yang merupakan anasir-anasir dari salah satu buah pikir Freire.
Kesadaran Magis : Merayakan tanpa memaknai
Pada tingkatan ini, masyarakat dan atau pemerintah cenderung menerima segala realitas tanpa mempertanyakan sebab-akibat di balik kondisi yang sudah, sedang dan akan terjadi.
Pada konteks HUT daerah, tingkat kesadaran ini tercermin pada alam pikir dan laku manusianya, tentang bagaimana perayaan hanya dikaitkan dengan sebuah seremoni upacara, hiburan atau pesta rakyat.
Tentu tidak ada yang salah, tetapi pada tingkat kesadaran ini kita belum bisa mengkoneksikan dengan realita dan problematika sosial yang sedang terjadi. Seperti bagaimana kondisi pendidikan, ketimpangan sosial, kemiskinan, dan isu lingkungan hidup misalnya.
Ketika kita hanya berhenti pada level ini, tentu kondisi realita yang hari ini sedang dirasakan hanya dianggap sebagai takdir yang harus diterima tanpa bisa kita ubah. Sedangkan setiap momentum yang terjadi manusia memiliki andil untuk merubah kondisi dan iramanya.
Pada konteks Pembangunan suatu daerah jika elit dan masyarakatnya terus menerus berada pada kondisi magis, keberhasilan pembangunan hanya dianggap sebagai hasil dari kinerja pemerintah saja.
Tanpa melihat adanya pengaruh sosial, yang mengakibatkan masyarakat menjadi pasif dan enggan untuk berkontribusi. Hal inilah yang akan menyebabkan macetnya pembangunan suatu daerah.
Kesadaran Naif : mulai sadar tapi nihil aksi
Tingkat kesadaran ini ditandai dengan kondisi masyarakat yang sudah mulai menyadari dan mempertanyakan kondisi yang sedang terjadi, namun belum mampu untuk membedah akar permasalahannya. Alih-alih menyelesaikan permasalahan, yang terjadi hanya sekadar memikirkan dan mempertanyakan.
Dalam konteks HUT Tanggamus, kesadaran ini terlihat dari mulai munculnya riak-riak kritik terhadap pemerintah. Seperti pembangunan jalan yang belum merata, kondisi pelayanan publik yang belum tertata dan lain sebagainya.