Tanggamus di Hadapan Paulo Freire

Jumat 03-04-2026,10:29 WIB
Oleh: Admin

Kritik yang muncul acapkali hanya keluhan-keluhan dari masyarakat dan bersifat tidak universal. Bahkan biasanya hanya menyudutkan individu atau kelompok yang sedang menjalankan roda organisasi pemerintahan. Tanpa melihat kebijakan atau ihwal lain yang mempengaruhi kebijakan yang diterapkan.

Meskipun hanya sebatas berpikir dan bertanya, tingkat kesadaran naif merupakan pijakan awal untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Peningkatan kesadaran dari magis ke naif merupakan usaha baik yang harus diapresiasi segala bentuk ekspresinya.

Karena pada tahap ini individu tersebut hanya bisa memahami masalah yang sedang terjadi. Cenderung menyederhanakan sebab akibatnya tanpa melihat aspek yang lebih luas.

Tingkatan ini bisa dikatakan sebagai tahap perantara antara kesadaran magis dan kritis. Biasanya pada tingkatan ini kondisi masyarakatnya mudah dimanipulasi, acuh tak acuh dan terkesan tidak mampu menganalisis problematika secara mendalam.

Kesadaran Kritis : evaluasi-aksi transformasi

Kesadaran kritis merupakan puncak dari segala pemikiran yang akan berbuah menjadi aksi nyata. Hal ini bisa diartikan bahwa masyarakat dan pemerintah sudah mampu berpikir secara kolektif dan komprehensif.

Bisa mengintegrasikan dan mengkoneksikan antara gejala sosial yang dialami dengan cara berpikir serta penyelesaiannya. Masyarakat pada level ini bisa kita anggap sebagai masyarakat madani. Kondisi dimana entitas individu atau sosial sudah mulai mengarah kepada beradaban yang berkeadaban.

Pada HUT Tanggamus misalnya, kesadaran ini bisa dilihat ketika masyarakat dan pemerintah tidak hanya merayakan hari jadi daerah dengan segala euforianya saja. Tapi juga diiringi dengan kesadaran kolektif dalam proses pembangunan.

Baik peningkatan sumber daya manusia dan juga eksplorasi sumber daya alamnya. Memang harus diakui secara jujur bahwa untuk sampai pada tingkat kesadaran kritis ini dibutuhkan usaha-usaha yang hasilnya tidak instan. Bukan seperti revolusi besar-besaran yang dampaknya bisa langsung dilihat dan dirasakan.

Pada akhirnya, pendekatan Paulo Freire ini mengajak kepada kita bahwa segala sesuatu seharusnya tidak hanya berhenti pada aktivitas simbol dan ritual saja.

Tetapi bagaimana semua elemen, baik pemerintahan dan masyarakat bisa memaknai pelbagai dinamika yang terjadi sebagai sebuah gejala untuk tumbuh bersama. Membangun daerah ini secara kolektif-partisipatif dan berkelanjutan.

Kategori :