KOTAAGUNG- Masyarakat yang bermukim di sekitar bantaran Sungai (Way) Jelai, Kelurahan Baros, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, hingga saat ini belum memiliki prasarana Mandi Cuci Kakus (MCK). Mereka umumnya memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar untuk kebutuhan hidup. Kondisi ini sudah terjadi selama berpuluh-puluh tahun, penyebabnya akibat kemiskinan warga setempat yang sebagian besar berprofesi sebagai buruh dan nelayan. Sepanjang hari warga setempat memanfaatkan aliran Sungai (Way) Jelai untuk seluruh aktivitas rumah tangga seperti mandi, buang air dan mencuci pakaian dan perabotan dapur lainnya. Warga beralasan, keberadaan Way Jelai cukup bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Untuk mandi, mencuci dan sebagainya yang semua dilakukan di aliran sungai. Meskipun ada warga yang membuat lokasi pembuangan air besar di rumah, namun pipa pembuangannya tetap dialirkan ke aliran sungai. “Hampir semua warga di sekitar aliran sungai ini memanfaatkannya untuk MCK terutama yang warga dengan perekonomian menengah kebawah. Untuk menggali sumur atau memasang ledeng (PDAM) kami tidak sanggup. Masih banyak kebutuhan rumah tangga lain yang harus kami penuhi,” kata Roaini. Kondisi warga setempat sungguh ironis, pasalnya keberadaan mereka berada di wilayah perkotaan. Tetapi kemiskinan yang mendera, membuat mereka tidak bias berbuat banyak. Air sungai yang sudah tercemar dengan kotoran manusia dan sampah dari hilir, bahkan menimbulkan bau, tetap dimanfaatkan warga. “Kami butuh MCK, kalau bias ada bantuan dari pemerintah dibangun MCK. Jadi kami bisa memanfaatkan MCK umum itu. Karena kalau pas kemarau, air sungai kecil, bau dan licin di badan, tapi tetap kami pakai. Akibantnya kami sering kena penyakit gatal dan sakit perut,” ujar Sapri, warga lainnya. Kemiskinan diduga menjadi penyebabnya. Apalagi kondisi wilayah itu sangat padat. Dimana satu rumah rata-rata diisi oleh lebih dari satu kepala keluarga. Sehingga mereka tak memiliki lahan untuk membuat MCK di dalam rumah. “Rumah kita sudah sempit, jadi mau ditaruh di mana MCK-nya. Kalau harus pindah maka kita butuh dana lagi dan itu tak mungkin,” keluh Sari, warga lainnya. Akhirnya, warga memutuskan untuk melakukan kegiatan MCK di sungai. Padahal selain membuat kotor lingkungan, hal itu sangat membahayakan. “Tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah kondisi kami disini, miskin,” tutupnya. (Zep)
Manfaatkan Way Jelai Sebagai Sarana MCK
Jumat 17-05-2019,18:34 WIB
Reporter : Redaksi
Editor : Redaksi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 29-10-2026,22:48 WIB
Luncurkan WARUNG RIMBUN, Pemkab Tanggamus Bidik Perencanaan Pembangunan Lebih Terintegrasi
Kamis 29-10-2026,11:57 WIB
Semarak Sumpah Pemuda, KNPI Tanggamus Hadirkan Turnamen Sepak Bola di Kelumbayan
Kamis 29-10-2026,22:46 WIB
Pemkab Tanggamus Raih Peringkat III, Bupati Tekankan Akuntabilitas Keuangan
Kamis 29-10-2026,22:50 WIB
Ops Patuh Krakatau 2026, Propam Periksa Kendaraan Anggota Polres Tanggamus
Terkini
Kamis 29-10-2026,22:50 WIB
Ops Patuh Krakatau 2026, Propam Periksa Kendaraan Anggota Polres Tanggamus
Kamis 29-10-2026,22:48 WIB
Luncurkan WARUNG RIMBUN, Pemkab Tanggamus Bidik Perencanaan Pembangunan Lebih Terintegrasi
Kamis 29-10-2026,22:46 WIB
Pemkab Tanggamus Raih Peringkat III, Bupati Tekankan Akuntabilitas Keuangan
Kamis 29-10-2026,11:57 WIB
Semarak Sumpah Pemuda, KNPI Tanggamus Hadirkan Turnamen Sepak Bola di Kelumbayan
Rabu 28-10-2026,17:11 WIB