Petani Pisang Di Tanggamus Merugi. Belum Panen Sudah Di Serang Kawanan Monyet

Petani Pisang Di Tanggamus Merugi. Belum Panen Sudah Di Serang Kawanan Monyet

Petani pisang mengeluh oleh hama monyet. Foto Zepta Heryadi--

 

RADARTANGGAMUS.CO.ID-- Selain dikenal sebagai penghasil lobster, ikan dan hasil laut lainnya, Kecamatan Pematangsawa, Kabupaten Tanggamus, Lampung juga tidak kalah dengan daerah lainnya dalam bidang perkebunan.

Mulai dari perkebunan kopi, kakao, pepaya california, kelapa dan juga pisang.

Bahkan untuk pengembangan tanaman pisang sudah mulai digerakkan oleh beberapa pekon diwilayah ujung
aspal itu.

Kendati sudah mulai menghasilkan dan bisa meningkatkan perekonomian para petani pisang, namun sampai saat ini  para petani pisang masih mengeluhkan hama.

Karena hama babi dan monyet yang ada di sana masih cukup banyak. Seperti yang dialami oleh petani pisang yang ada di Dusun Batu Ketakai, Pekon Waynipah.

Di wilayah ini terdapat puluhan hektare tanaman pisang, bahkan saat ini tanaman pisang juga sudah mulai dikembangkan di sekitar pekarangan rumah.

Mengingat harga pisang saat ini cukup tinggi dengan permintaan yang tinggi dari pulau Jawa.

“Tanam pisang cukup menjanjikan. Namun kami sulit memberantas hamanya, seperti babi dan monyet. Kendati sudah diburu warga, namun tetap saja masih banyak hama babi ini,” kata Warji, salah satu petani pisang didaerah itu.

Bahkan para petani pisang juga berharap mendapat perhatian pemerintah, terkait cara menanggulangi hama babi dan monyet saat ini.

Selama ini, hama babi sudah sangat meresahkan masyarakat. Terutama petani pisang, ubi, jagung dan sebagainya.

Berdasarkan pantauan Radar Tanggamus.co.id, saat ini para petani pisang tidak perlu lagi khawatir kalau pisangnya tidak laku.

Karena  khususnya di Pekon Waynipah sudah banyak penampung atau toke pisang yang siap membeli pisang-pisang dari petani.

Berdasarkan keterangan Ahmad Yani, salah satu penampung pisang di Pematangsawa, harga pisang per kilogram berbeda-beda.

Pisang jantan, nangka dan muli harga mencapai Rp 1.500 per kilogram. Sementara untuk pisang ambon, pisang tanduk dan pisang kapok super itu bisa mencapai Rp 2.500 per kilogram dari tingkat petani.

"Kelamahan petani sekarang ini kesulitan dalam membratantas hama babi dan monyet ini.

Sebab, kalau masalah pertanian mereka tidak usah khawatir buahnya tidak akan laku, karena disini sudah banyak penampungnya,"terangnya.

Untuk itu ia dan petani lainnya berharap supaya pemerintah dapat menyikapi keluhan para petani ini dengan memberikan bantuan obat pembasmi hama babi dan monyet.

Sebab selain dari laut masyarakat disana hanya mengandalkan perkebunan.

"Ya kalau gak laut kebun. Nah, kalau sekarang laut lagi sepi, sementara kebun begitu juga,"tutupnya. (*)

Sumber: akibat hama monyet